Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim untuk Menyembelih Ismail

Tidak Ada Perintah Tuhan Kepada Ibrahim untuk Menyembelih Ismail
Ilustrasi (Foto-Ist)

MENIT7.COM – Dalam Al-Quran tidak disebutkan adanya perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail.
Ibrahim “hanya” bermimpi menyembelih anaknya, lalu meminta pendapat ke sang anak, yang lalu dijawab oleh Ismail, sang anak: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Mimpi, bukan wahyu langsung dari Tuhan. Suatu pesan multi tafsir yang menimbulkan pergumulan batin berat bagi Ibrahim sang Rasul Allah.

Penyembelihan yang lalu diganti dengan kambing, ini merupakan sebuah kritik terhadap yang masih mempraktikkan pengorbanan manusia. Tuhan “menggagalkan rencana mengorbankan anak manusia lalu menggantinya dengan kambing”, untuk mengajari manusia, bahwa pengabdian kepada Tuhan bukanlah dilakukan dengan menumpahkan darah dan nyawa manusia, apalagi darah dan nyawa anak sendiri. Tapi justru dengan membantu sesama: memberi makan fakir-miskin (disimbolkan dengan memotong kambing lalu dagingnya dibagi-bagikan ke sesama).

Memberi makan adalah simbol menjaga, memelihara dan menghargai kehidupan manusia. Bukan menghilangkan nyawa manusia.

Pengabdian kepada Tuhan hendaklah dibuktikan dan diwujudkan dengan cara mengabdi pada sesama, bukan dengan mengorbankan sesama. Tuhan tidak butuh apa-apa dari manusia. Hasil akhir dari pengagungan kepada Tuhan haruslah kedamaian, keselamatan, kesejahteraan.

Berbagai praktek keagamaan adalah aneka ragam yang berasal dari satu kebenaran. Dan kebenaran ini menunjukkan dirinya dalam berbagai orang. Tidak dapat dalam bentuk yang sama karena perbedaan pemikiran dalam komunitas berbeda.

Kira-kira 1.800 tahun Sebelum Masehi kepada seorang lelaki yang bernama Ibrahim, Tuhan menurunkan ilmu dari diri-Nya, dari Tujuan-Nya bagi manusia. Dalam artian Tuhan memilih Ibrahim, agar dia dapat menjadi saluran aspek ilmu Tuhan ini dapat sampai ke seluruh keluarga bumi.

Dan kira-kira 1.250 tahun sebelum Masehi Tuhan memberi wahyu kepada Musa. Lalu kira-kira 1.000 tahun. Sebelum Masehi kepada Raja Daud (David). Pada masa sekitar 900 tahun sebelum Masehi para pemimpin agama besar mulai muncul di berbagai belahan dunia: Confusius di Cina, Buddha di India, Zoroaster di Persia dan masih banyak lagi yang lain. Barangkali kita dapat menambahkan Socrates, Plato dan Pythagoras di Yunani. Semua itu membawa wawasan baru lebih mendalam kepada bangsa-bangsa manusia di mana mereka hidup. Hingga kemudian Tuhan mengirimkan John Pembaptis (Yahya) dan selanjutnya Yesus ke bangsa Yahudi.

Dalam pada itu, agama-agama Asia sebelah timur dan selatan sedang tumbuh dan berkembang. Agama Kristen juga menyebar ke arah timur, jurang pemisah berkembang antara umat Kristen Yunani yang terkena proses Hellenisme Romawi atau Kerajaan Byzantine dan Semitik dan umat Kristen yang tidak terkena Helenisasi di batas-batas ketimurannya.

Dalam situasi begini, walaupun hal itu dipahami secara terinci, ada ruang lingkup prakarsa ilahi dalam urusan-urusan manusia dan ini terjadi melalui Nabi Muhammad. Dalam ekspansi Islam yang cepat. Seperti sajak pujangga Jerman, Goethe, tentang Muhammad: “Ia yang bagai air jernih yang mengalir dari hulu ke hilir dengan arus yang kian meningkat, tak terbendung apapun.”

Kini umat Islam dihadapkan pada tantangan untuk mewujudkan bukti Islam sebagai rahmat untuk kehidupan di alam raya. Setidaknya dalam sikap dan perbuatan hidup sehari-hari.(***)

 

Siti Rahmah

Referensi: Nurcholish Madjid

2,252 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan