Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Sannari, Warga Maros yang Miskin Hidup di Gubuk Bambu (1)

Sannari, Warga Maros yang Miskin Hidup di Gubuk Bambu (1)

Setelah viral dimedia sosial, seorang warga miskin di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Wartawan Menit7.com melakukan ivestigasi siapa sebenarnya mereka. Berikut hasil hasil investigasi yang diturunkan secara bersambung.

Nama Sannari (43) tiba-tiba jadi populer. Viral di media sosial (Medsos). Bukan karena Sannari seorang artis atau seorang dermawan. Ataukah dia seorang yang kaya raya. Banyak uang seperti orang kebanyakan. Ataukah dia seorang yang berjiwa sosial. Selalu memberi dan berbagi sesama. Bukan juga seorang Haerul yang menerbangkan pesawat rakitanya.

Semua itu, tidak dimiliki oleh seorang Sannari. Sannari hanya seorang perempuan setengah baya yang tak berdaya. Kehidupannya, serba kekurangan.
Hidup di bawah garis kemiskinan. Inilah penyebabnya. Kenapa nama Sannari tiba-tiba menjadi sosok yang terkenal.

Sannari populer dan dikenal oleh warga Medsos bukan lantaran kehidupannya serba yang wah, bergeliman harta benda. Tapi, karena kemiskinannya. Itulah Sannari yang saat ini menjadi perhatian. Sorotan Medsos. Jauh dari harapan seperti yang didambakan banyak orang untuk menjadi seorang yang cukup ekonominya.

Parahnya lagi, ternyata Sannari termasuk salah seorang penduduk Kabupaten Maros yang paling termiskin dari sekian banyak orang-orang miskin di Maros.

Tempat tinggalnya hanya berjarak 35 kilo meter dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Hanya berjarak kurang lebih 5 kilo meter kota Maros, ibu kota Kabupaten Maros. Itulah potret kehidupan kemiskinan yang dialami Sannari selama puluhan tahun. Luput dari kepedulian pemerintah daerah.

Wartawan Media Online Menit7.com Irianto Amama yang menemui Sannari, Jumat malam 24/01-2020, di rumahnya di Kampung Suli-suli, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, nyaris tak percaya jika kehidupan Sannari sangat miris dan Memilukan.

Rumahnya yang berdinding terbuat dari kulit bambu terikat dengan tali plastik sudah robek. Posisi dinding rumah bagian depan inipun nyaris rubuh. Begitu juga dinding yang ada di samping kiri-kanan.

Semua dindingnya yang terbuat kulit bambu nyaris ambruk, bahkan sebagian sudah rubuh. Agar dinding rumahnya tidak jatuh ketanah, dinding itu dibungkus dengan kain kelambu bekas yang sobek. Betu-betul sangat memiriskan hati. Itulah kondisi rumah dinding Sannari nampak dari luar.

Sementara bagian dalam rumah Sannari, Menit7.com tidak perlu bercerita banyak. Yang ada di benak rumah Sannari menunggu kapan rubuhnya. Sehingga untuk melangkahkan kaki, perlu ekstra hati-hati.

Lantainya pun terbuat dari potong-potongan bambu yang tidak beraturan. Salah melangkah, kaki akan terperosok ke bawah. Juga kondisi atapnya yang terbuat dari daun nipa sudah bocor sana- sini. Robek dimana-mana. Sehingga, pada siang hari sinar matahari langsung masuk ke rumah. Begitu pun pada malam hari, rumah itu nampak terang dengan cahaya bintang yang menembus atap rumah Sannari.
(bersambung)

Laporan Irianto Amama
Editor Husaini

8,266 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan