Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Pungutan Perbaikan Kelas SDN 20 Tibawa Dikeluhkan Orang Tua Siswa

Pungutan Perbaikan Kelas  SDN 20 Tibawa Dikeluhkan   Orang Tua Siswa

Gorontalo, Menit7.com – Sejumlah orang tua siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 20 Tibawa, Kabupaten Gorontalo, mengeluhkan adanya pungutan sejumlah uang untuk perbaikan ruang kelas yang dibebankan kepada mereka selaku orang tua siswa.

Kegiatan yang dianggap oleh orang tua siswa sebagai kegiatan yang tak patut itu cukup meresahkan mereka sebagai orang tua siswa. Pun kegiatan tersebut diduga oleh orang tua siswa sebagai kegiatan pungutan liar (pungli).

Imbran salah satu orang tua siswa kepada Menit7.com mengatakan, pada Rabu (25/12/2019) sekitar pukul 12.30 Wita, saat itu Ia dan istrinya berada di rumah. Tiba-tiba Ia dan istrinya didatangi oleh seseorang yang bernama NA yang juga merupakan orang tua siswa SDN 20 Tibawa. NA tersebut datang untuk menagih uang sejumlah 100 ribu kepada istri Imbran dengan alasan untuk perbaikan ruang kelas di sekolah.

“Jadi saya itu sempat ba keras tadi, sementara makan. Jadi tidak usah (jangan) ba kaseh (memberikan) dulu. Karena istri saya juga sayang anak karena sekolah, jangan sampai jadi alasan rapor tidak diterima, jadi istri saya sudah ba kaseh (memberikan), karena dia khawatir,” ujar Imbran, Rabu (25/12/2019).

“Tetapi saya sudah bilang ini salah, karena semua masyarakat sudah tau bahwa sekolah ini ada dana (BOS). Apalagi SD dan anak saya ini baru kurang lebih 6 (enam) bulan sekolah (kelas 1), baru sudah diminta 100 ribu dengan alasan memperbaiki ruang kelas di sekolah,” sambung Imbran.

Hal senada disampaikan Hartati yang juga merupakan orang tua siswa kelas 1 SDN 20 Tibawa, bahwa Ia didatangi oleh NA di rumahnya untuk dimintakan uang sejumlah 100 ribu.

“Dia bilang untuk perbaikan ruang kelas di sekolah, jadi saya kaget,” kata Hartati.

Saat dikonfirmasi, NA membenarkan bahwa Ia diperintahkan oleh seorang Guru kelas 1 SDN 20 Tibawa untuk menagih uang ke orang tua siswa khusus kelas 1.

“Tadinya dia (Guru kelas 1, red) suruh orang yang mewakili dia. Dari 26 siswa ini, dia suruh tunjuk 1 orang yang mengumpul uang, lalu tidak ada yang mau. Jadi dia sendiri yang tunjuk saya mengumpul uang untuk perbaikan kelas itu,” ungkap NA.

NA menambahkan, bahwa dari 26 siswa kelas 1 tersebut, saat ini sudah ada 6 orang tua siswa yang memberikan uang sejumlah yang dikumpulkan tersebut.

Sementara itu, Guru kelas 1 SDN 20 Tibawa, Serli Kiayi, saat dimintai klarifikasinya terkait persoalan tersebut mengatakan, bahwa setiap kelas di SDN 20 Tibawa itu ada namanya paguyuban kelas dan di paguyuban kelas itu orang tua siswa memperbaiki kelas seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang di masing-masing kelas itu ada diadakan sudut baca, lalu paguyuban itu Ibu Kepsek (Kepala Sekolah) suruh aktifkan. Kelas 1 kan kelas 1 baru, yang lalu membuat kelas itu kan yang sudah kelas 2 sekarang. Sekarang kelas 1 baru itu sudah menempati bagian sudut baca, jadi Ibunya Jirul (NA, red) sebagai ketua paguyuban kelas 1,” jelas Serli.

“Jadi terserah sama orang tua siswa, keputusan ada ditangan mamanya Jirul (NA). Cuma saya sudah perlihatkan itu foto yang mau dibuat. Lalu bukan hanya saya, semua kelas, kecuali kelas 2, karena kelas 2 sudah selesai dorang (mereka) punya,” lanjut Serli.

Serli menambahkan, terkait perihal tersebut telah diketahui oleh Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 20 Tibawa. Bahkan menurut pengakuan Serli, hal itu berdasarkan perintah Kepsek.

“Saya juga tidak berani menyuruh kalau tidak ada perintah. Saya hanya menyampaikan itu karena perintah Ibu Kepsek. Kalau tidak ada perintah saya tidak mungin menyampaikan. Saya kan cuma bawahan, saya ada atasan. Sebenarnya itu mau dirapatkan, karena sudah terburu-buru, dia (Kepsek, red) suruh sampaikan saja ke masing-masing wali kelas,” jelas Serli.

Terkait persoalan tersebut, Kepsek SDN 20 Tibawa, Musdari M. Nangili, S.Pd, saat dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan, bahwa di SDN 20 Tibawa itu ada paguyuban kelas.

“Di hari Senin (23/12/2019) kemarin itu ada penyerahan Rapor, di saat itu setiap paguyuban kelas mengadakan rapat. Tapi ketentuan uang 100 ribu itu sesuai keputusan rapat per kelas masing-masing, yang saya tahu persis mereka mengadakan rapat di kelas dan ada daftar hadirnya dan ada berita acaranya. Tapi keputusan 100 ribu itu saya belum dengar keputusannya,” tandasnya. (RRK)

8,830 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan