Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Pemimpin yang Melayani

Pemimpin yang Melayani

OPINI — Banyak pengertian kepemimpinan yang telah didefinisikan oleh para pakar. Namun secara umum mengandung pengertian bahwa kepemimpinan itu dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang lain, baik individu maupun masyarakat untuk mencapai tujuan. 

John C Maxwell mengatakan, inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut. Sementara Locke mendefenisikan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Dalam pengertian ini tersirat premis bahwa para pemimpin adalah mereka yang memiliki kekuatan berelasi dengan orang lain atau anggotanya dalam rangka mencapai tujuan.

Satu konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh praktisi manajemen di Amerika adalah konsep SERVE, yang dalam bahasa Indonesia berarti Melayani. Konsep utamanya ialah bahwa, apa pun jabatan atau kedudukan formalnya, orang-orang yang ingin menjadi pemimpin besar, harus mempunyai sikap melayani orang lain.

Dalam buku The Secret (Rahasia Kepemimpinan) oleh Ken Blanchard dan Mark Miller (2005), konsep SERVE dijelaskan secara singkat tapi lugas. SERVE sendiri merupakan singkatan dari lima kata kunci yaitu S (See the future – Melihat masa depan), E (Engage and develop others – Libatkan dan kembangkan orang lain), R (Reinvent continuously – Temukan kembali terus menerus), V (Value results and relationship – Hargai hasil dan hubungan), E (Embody the values – Mewujudkan nilai).

Di antara makna see the future adalah seorang pemimpin harus bersedia dan sanggup membantu orang-orang untuk melihat tujuannya, dan juga mengarahkan kemana mereka harus pergi, dan apa yang akan menuntun perjalanan mereka. Sedangkan engange and develop others (libatkan dan kembangkan orang lain) mempunyai dua makna:

Pertama, merekrut atau memilih orang yang tepat untuk tugas yang tepat. Dan, kedua, lakukan apapun yang diperlukan untuk melibatkan hati dan kepala orang-orang tersebut. Intinya, ketika kita menjadi pemimpin, kita harus punya bayangan, arah kemajuan apa yang ingin kita capai ke depannya.

KONSEP ISLAM

Tentang siapa yang disebut pemimpin dalam konsep Islam bila didasarkan kepada keterangan Nabi Muhammad SAW adalah semua kita. Kullukum raa’in wa kullukum mas-ulun ‘an ra’iyyatih”, artinya sètiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Poinnya adalah siapa saja berhak menjadi pemimpin asalkan mampu dan bertanggung jawab.

Beberapa unsur prinsipil kepemimpinan yang diajarkan Islam: Pertama, pemimpin tidak boleh minta diistimewakan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi disebutkan bahwa tak seorang pun yang tidak mencintai Rasulullah SAW, (namun) apabila mereka mengerti Rasul (tiba) mereka tidak lalu berdiri (untuk menghormat) karena mereka tahu bahwa hal itu adalah terlarang. Sementara dalam hadis lain diriwayatkan bahwa Muawiyah tatkala keluar, ia menyuruh duduk Abdullah bin Zubair dan lbnu Sofyan, sambil mengucap: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, barang siapa yang menyukai orang untuk berdiri guna menghormatinya, maka tempatnya adalah di neraka (HR. Turmudzi).

Kedua, pemimpin tidak boleh hanya mementingkan dirinya sendiri. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, dinyatakan bahwa Rasulullah melarang tiga hal: (1) agar jangan sampai ada imam yang berdoa untuk dirinya sendiri; (2) agar jangan ada di antara kita mengintai-intai rumah orang lain sebelum diizinkannya; dan (3) agar seseorang tidak melakukan shalat saat dirinya masih berat (karena mengantuk) sampai merasa ringan.

Ketiga, pemimpin tidak boleh memberatkan umat, karena ia adalah pelayan mereka. Pernah suatu saat Nabi agak marah karena dilapori imam terlalu panjang bacaannya, lalu beliau pun bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya kalian itu bermacam-macam. Siapapun yang menjadi imam buat manusia berbuatlah sedang-sedang saja, karena sesungguhnya di belakang imam ada orang yang sudah lemah, ada yang tua dan ada pula yang masih mempunyai keperluan.” (HR. Bukhari).

Keempat, pemimpin bertanggung jawab secara pribadi jika bersalah, tidak dibebankan kepada umat. Uqbah bin Amir mengatakan, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menjadi imam buat manusia, lalu ia bisa menepati waktu, maka pahala untuknya dan untuk yang dipimpin. Dan barangsiapa memimpin tetapi tidak menepati waktu (bersalah), maka dosanya (tanggung jawabnya) atasnya, bukan atas yang dipimpin.” (HR. Abu Dawud)

Lima, pemimpin ikut bertanggung jawab atas kesalahan orang yang dipimpinnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Orang-orang melakukan shalat karena pimpinanmu, jika mereka benar kamu ikut benar, dan jika mereka melakukan kesalahan, kamu dan mereka akan bertanggung jawab.” (HR. Bukhari).

Keenam, pemimpin harus tetap hormat kepada pimpinan atasan yang mengangkatnya. Cukup banyak nash yang dapat dijadikan sandaran atas pikiran ini, antara lain firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah, patuhi Rasul dan ikuti para pemangku kekuasaan (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).

Ketujuh, pemimpin harus bersedia menerima kritik dan saran dari siapa pun termasuk dari bawahannya asal wajar dan objektif. Selain itu pemimpin harus mempercayai bawahannya yang jujur dan taat. Diriwayatkan dalam hadis yang agak panjang dengan riwayat Bukhari, intinya adalah sebagai pemimpin umat Rasulullah SAW: Mempercayai laporan intelnya; Meminta pendapat para sahabat terhadap gagasan yang dilontarkannya; Dan menerima saran Abu Bakar yang proporsional sehingga dapat mengurangi kemasygulan yang terjadi.

Delapan, pemimpin jangan berbuat sewenang-wenang. Dalam hadis riwayat Muslim dinyatakan bahwa Hisyam bin Hakim ketika menyaksikan penyiksaan terhadap manusia dan dijemur di tempat panas di negeri Syam, mengucapkan: “Sungguh aku dengar dari Rasulullah saw bahwa Tuhan akan mengazab pemimpin yang pernah mengazab rakyatnya di dunia.” Dan Rasulullah saw pernah doa, “Ya Allah, persulitlah bagi siapa yang memegang suatu tanggung jawab atas umatku lalu mempersulit mereka; dan berlunaklah ya Allah bagi siapa yang memegang suatu tanggungjawab atas umatku, lalu bersikap bijaksana dalam membimbing mereka.” (HR. Muslim). Dan, kesembilan, pemimpin tidak dibenarkan membuka aib bawahannya, terutama di depan umum dalam kondisi bagaimanapun.

Amanah Allah

Menjadi pemimpin berarti memegang amanat Allah Swt. Jabatan yang dimiliki manusia semua merupakan amanah dari Allah Swt yang harus dipertangungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Jabatan itu seharusnya dijadikan sebagai peluang untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain, peluang untuk mensejahterakan kehidupan bersama, dan peluang untuk meningkatkan dakwah Islamiyah dalam berbagai bidang kehidupan.

Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Saya tidak ingin ada keledai mati karena kelaparan pada saat saya menjadi khalifah.” Ini mengisyaratkan adanya tanggung jawab Umar atas tugas kepemimpinannya. Para pemimpin hendaknya tidak memimpin atas dasar nafsu kekuasaan atau jabatan semata, namun kepemimpinannya lahir dari hati yang melayani rakyat. Nah!

Oleh: Dr. Yuni Roslaili Usman Latief, M.A., Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh.

1,964 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

One Response

Tinggalkan Balasan

Dibagikan