Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Pemimpin Jangan Anti Kritik

Pemimpin Jangan Anti Kritik

OPINI – Apakah ada orang yang tidak pernah salah? Rasanya tidak ada. Setiap kita punya salah dan pernah berbuat salah. Hanya saja ada orang yang menyadari kesalahannya ada orang yang salah, tapi tidak merasa salah serta tidak mau memperbaiki kesalahannya. 

Sabda Rasulullah SAW. “Setiap anak Adam (manusia) pernah berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang mau bertaubat.”

Taubat dalam konteks ini meliputi menyesali kesalahan, memohon ampun, berniat untuk tidak mengulangi kesalahan, memohon maaf kepada orang yang pernah disakiti dan yang terpenting bagaimana ia bisa berbuat lebih baik dari apa yang dilakukannya saat ini.

Salah satu ciri orang yang mau taubat dalam konteks lembaga adalah seorang pemimpin yang mau menerima kritik dari bawahan atau pihak lain dan mau mengubah kebijakannya. Andai ia salah atau kurang memenuhi rasa keadilan bawahannya. Ia tidak segan mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaikinya.

Sejatinya, kritik merupakan inti dari demokrasi. Kehadirannya tidak boleh diartikan begitu saja, karena ia menjadi pengingat yang secara alamiah memberikan keseimbangan. Sepahit apa pun kritikan, ia tetaplah obat yang tidak saja berjasa secara cepat menunjukkan kekeliruan, tetapi sekaligus secara cepat pula menuntun kita menemukan arah yang benar.

Jadi kritik sejatinya bukanlah musuh yang layak dijauhi. Karena sesungguhnya, dia lah kawan sejati.

Kritik adalah cara yang baik untuk mengetahui kekurangan kita. Oleh karena itu, keberadaan pihak yang mengkritik harusnya disyukuri bukan malah dimusuhi atau dijauhi. Jangan merasa dipojokkan karena kritik, karena ia adalah obat penyembuh yang manjur bagi kita.

Maka, pahamilah kritik secara benar. Contoh seorang kepala sekolah di Malang, misalnya, tidak sampai perlu mengeluarkan dua siswanya hanya karena orang tua dua bocah itu tidak sependapat dengan metode belajar mengajar yang diterapkan sekolah tersebut. Juga seorang Pritha Mulyasari, tidak seharusnya menjalani proses hukum yang rumit, dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit, hanya karena mengkritik layanan rumah sakit itu yang buruk.

Seorang pemimpin yang anti terhadap kritik, biasanya adalah pemimpin yang anti terhadap perubahan. Ia tidak mau belajar dan berkembang. Apa yang menurutnya benar harus diikuti dan tidak boleh ada orang yang membantahnya.

Padahal, ilmu terus berkembang, siapa tahu apa yang disampaikan oleh pihak yang mengkritik itu adalah ilmu yang memang baru dan belum diketahui oleh sang pemimpin. Inilah bukti kesombongan dari seorang pemimpin yang lambat laun akan membawanya pada kehancuran.

Pemimpin pasti paham untuk apa jabatan itu digunakan. Inilah sedekah terbaik yang bisa dilakukannya, membuat kebijakan yang bermanfaat bagi masa depan sekolah.

Sosok pribadinya sangat mempesona. Mempesona bukan karena tak ada kesalahan yang dibuatnya. Ingat, pemimpin bukan manusia setengah dewa kata Iwan Fals. Dia tetap manusia biasa yang kerap lakukan kekeliruan. Kekeliruan itu bisa dimaafkan. Ini namanya proses belajar dan pendewasaan diri.

Jika dia mau terima kritik karena kesalahannya, lalu dia segera perbaiki diri, ini baru Top Markotop. Tapi, jika egonya tak mampu ditaklukkan, pasti hasrat serta nafsu akan selalu menjadi pemandu dalam mengambil kebijakan. Hasilnya apa? Pastilah keresahan, kegundahan dan kerusakan bagi keberlangsungan sistem lembaga atau organisasi.

Maka, pilihlah sosok pemimpin yang mampu perankan dirinya jadi pemimpin bukan pimpinan. Cirinya sederhana saja, telisik sisi pribadinya lalu cari tahu apakah dia sosok yang rendah hati.

Karena St. Augustine pernah berujar, “Anda ingin naik? Mulailah dengan turun. Anda ingin membangun menara tinggi menjulang? Mulailah dengan menanam fondasinya, yaitu kerendahan hati”. Sangatlah tepat apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW. “Barangsiapa yang rendah hati maka Allah akan meninggikan derajatnya, dan barangsiapa yang tinggi hati (sombong) maka Allah akan merendahkan derajatnya.”

Maka, bagi siapapun para pemimpin yang sombong dan tidak mau menerima kritik, sadarlah dan berhati-hatilah, kalau sekalian tidak mau merubah sikap, bersiap-siaplah untuk sebuah kehancuran. Dan bagi kita para bawahan, teruslah untuk mengingatkan, jangan pernah bosan untuk sebuah kebaikan.

Karena hancurnya lembaga karena pemimpin yang angkuh, sombong, mau menang sendiri dan tidak amanah, setidaknya akan membawa imbas yang besar bagi kita yang berada di sekitarnya.(***)

Salam Redaksi

3,582 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

One Response

Tinggalkan Balasan

Dibagikan