Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Pantang Menyerah, Berbekal Uang Bensin Rp10 Ribu, Haikal Anak Kuli Bangunan Jadi Prajurit TNI AD

Pantang Menyerah, Berbekal Uang Bensin Rp10 Ribu, Haikal Anak Kuli Bangunan Jadi Prajurit TNI AD
Haikal. (Foto-Ist)

PANGKEP, MENIT7 – Haikal anak seorang kuli bangunan, di Kampung Padoang-doangan, Kelurahan Padoang-doangan, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulsel. Mampu melewati masa seleksi yang ketat dan akhirnya lulus menjadi prajurit TNI-AD.

Saat ini, Haikal dalam masa pendidikan di sekolah calon Tamtama (Secata- A) DI Malino, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa.

Haikal merupakan, anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Muh Arsyad (64) dan Saharia (51). Dimana keseharian sang ayah, awalnya bekerja tukang becak,lanjut beralih ke kuli bangunan.

Ibu kandungnya kesehariannya mengajarkan anak-anak mengaji di kampung itu. Namun, saat ini sang ayah tidak mampu lagi mencari nafkah dikarenakan kondisinya yang rentan tua dan sakit- sakitan, apalagi kaki sebelah kanannya mengecil.

Perjuangan, Haikal sendiri untuk menggapai cita-citanya itu, terbilang keras dengan keterbatasan ekonomi. Dimana, untuk makan sehari hari saja kadang orang tuanya harus memaksakan diri untuk bekerja dan Haikal sendiri,  harus  membantu orang tuanya mencari nafkah dengan ikut bekerja kuli bangunan dan membagi waktu untuk konsentrasinya dalam proses tes saat itu.

Dengan tetesan air mata bercucuran, sang ayah dan ibu kandung Haikal menceritakan dengan dialek bahasa daerah (Makassar-red) bahwa proses mendaftarnya Haikal di Sub Panda Makassar. Haikal sendiri anak bungsu dari tiga bersaudara dan sudah mendaftar TNI sebanyak 4 kali.

“Haikal itu anak bungsu kami, dia satu-satunya anak kami yang menyelesaikan sekolah ke tingkat SMA. Setelah tamat sekolah di tahun 2015 lalu, dia membantu saya mencari nafkah jadi kuli bangunan juga,” tutur Arsyad ayah Haikal.

“Dia juga sampaikan keinginannya untuk jadi tentara. Namun, saya bilang kita tidak punya apa-apa. Tapi tekadnya yang besar dia terus menabung menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang diperoleh, bahkan upah yang didapat tidak pernah dia belikan apa- apa dia kasih kami sedikit sisa gajinya ditabung sendiri,” katanya, saat ditemui dirumahnya, Selasa, (29/8).

Lanjutnya, saat Haikal mendaftar di Makassar dengan modal bensin Rp10 ribu tiap harinya pulang pergi dengan memakai motor kakaknya. Terkadang, Ia sampai ke rumah dengan perut kosong lantaran Ia harus mengirit biaya. Ia sama sekali sosok anak yang tidak ingin membebani orang tua dan taat beribadah.

Dengan tabungan yang ada selama ini dan dibantu oleh kakaknya juga pekerja kuli bangunan, dari bantuan pinjaman dari tetangga akhirnya biaya pendaftaran pun saat lulus dapat teratasi.

“Allah itu maha adil, Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan kita. Ini yang saya tanamkan ke pada Haikal,” ujarnya.

Sementara, saat sang ibu menceritakan ketika Ia harus naik ke Makassar menghadiri kelulusan putranya, Ia harus meminta kepada ke dua kakak Haikal, untuk biaya transportasi.

Saat ini pula kondisi rumah orang tua Haikal, aliran listriknya pun masih numpang di rumah tetangganya dikarenakan tidak mampu memasang kilometer listrik, lantaran himpitan ekonomi.

“Tapi, saya syukurmi usaha selama ini anak saya Haikal tidak sia sia, terkadang pulang kelaparan saat mendaftar. Tidak ada sama sekali kodong uang kita kasih untuk beli makanan waktu mendaftarki, sabar tonji, tidak mengeluh. baru dia orangnya tidak mau nakasih pusing orang tuanya sama saudara saudaranya,” ucapnya, sembari menitihkan air mata. (Hry/M7)

3,292 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan