Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

OTT Rp6 Milliar Tak Terbukti, Bos Komura Divonis Bebas

OTT Rp6 Milliar Tak Terbukti, Bos Komura Divonis Bebas

SAMARINDA, MENIT7.com – Episode panjang kasus dugaan pungli di Terminal Pelabuhan Peti Kemas (TPK) Palaran memasuki babak akhir.

Perkara yang diawali Operasi Tangkap Tangan (OTT) Tim Bareskrim Mabes Polri dan Polda Kaltim ini berujung antiklimaks.

Seperti biasanya, setiap sidang dugaan pungli dan Tindak Pidana Pencucian Uang yang menyeret bos Koperasi Samudera Indonesia (Komura) Jafar Abdul Gaffar dan sekretarisnya, Dwi Hari Winarno, selalu dipenuhi pengunjung di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda.

Tapi sejak pagi hingga sore kemarin (21/12), jumlah massa yang hadir lebih banyak dari sebelumnya. Mereka menyesaki Ruang Sidang Prof DR M Hatta Ali SH MH yang merupakan gedung utama PN Samarinda. Bahkan massa sampai mengelilingi, ada yang berdiri maupun duduk hingga ke pelataran meja majelis hakim yang harusnya steril.

Massa yang diperkirakan berjumlah lebih 500 orang tersebut merupakan kerabat dan anggota keluarga besar Komura. Mereka langsung tumpah ruah begitu majelis hakim dipimpin Joni Kondolele didampingi Edy Toto Purba dan R Hartyarso mengetuk palu tanda sidang ditutup.

Jafar dan Dwi sempat melakukan sujud syukur di ruang sidang. Petinggi Komura tersebut dinyatakan bebas dari semua tuntutan Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Takbir pun langsung berkumadang. Dalam sidang agenda putusan tersebut yang dibacakan bergantian, Dwi dapat giliran pertama pembacaan putusan, majelis hakim dalam pertimbangan berdasarkan keterangan saksi maupun terdakwa serta alat bukti mengungkapkan jika penetapan tarif bongkar muat sudah sesuai kesepakatan.

“Bahwa Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) tidak pernah melakukan demo dan mogok kerja terkait kenaikan tarif. Mogok kerja pernah dilakukan sekali, namun terkait pembahasan wilayah kerja,” ujar hakim.

Kemudian juga disebutkan, masih pertimbangan hakim dari fakta persidangan dalam melakukan pembahasan tarif bongkar muat, Jafar tak menggebrak meja. Hakim masih dalam pertimbangannya menyebut, bahwa menjadi hal biasa jika dalam rapat membahas mengenai kenaikan tarif diwarnai perdebatan.

“Dalam DPR pun selalu diwarnai perdebatan. Bahkan jika disebutkan terdakwa (Jafar, Red) dinyatakan bersikap keras dalam menyampaikan pendapat, hal tersebut memang sudah menjadi pembawaan terdakwa yang berbicara tegas dan lantang saat memperjuangkan nasib anggotanya,” terang hakim.

Kemudian kesepakatan penetapan tarif juga sudah dibuatkan SK, sehingga jadi dasar Komura dalam penarikan biaya bongkar muat.

“Dakwaan JPU juga tak terbukti dalam diri terdakwa melakukan pidana. Maka dari itu terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan tersebut. Maka hak-hak terdakwa, kedudukan dan harkat martabat. Kemudian asal usul barang bukti dikembalikan kepada dari mana disita,” kata hakim.

“Kemudian karena terdakwa dibebaskan, maka biaya perkara dibebankan kepada negara. Memerintahkan terdakwa dikeluarkan dari tahanan segera setelah putusan ini,” kata hakim, diikuti dengan kalimat takbir pengunjung sidang.

Suasana sidang pun menjadi riuh, sehingga ketua majelis hakim sempat mengetukkan palu untuk memperingatkan pengunjung sidang agar tetap tertib.

Atas putusan tersebut, baik Jafar maupun Dwi sama-sama menyatakan menerimanya. Sedangkan JPU menyatakan pikir-pikir.

“Ada waktu tujuh hari untuk melakukan pikir-pikir, kemudian menyatakan terima atau tidak,” terang hakim sebelum menutup sidang.

Kuasa hukum Jafar, Thedy  menyebut keputusan yang diambil majelis hakim bijaksana.

“Karena itulah fakta persidangan yang terungkap. Apa yang sudah sudah diputuskan, itulah hasilnya. Pertimbangannya sudah tepat. Artinya unsur-unsur yang dikemukakan JPU tak dapat dibuktikan di persidangan. Bahwa melakukan pemerasan, menguntungkan diri sendiri dan orang lain juga tak terbukti,” tandas Thedy Hermawan.

Tepat pukul 23.00 Wita tadi malam, Jafar mulai meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA di Jalan Jenderal Sudirman, Samarinda Kota.

Sejumlah kerabat yang menunggunya di pintu lapas nampak gembira dengan keluarnya Gaffar setelah divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Samarinda.

Di hadapan awak media yang menuggunya, Jafar mengungkapkan rasa syukur atas vonis bebas yang dijatuhkan majelis hakim kepadanya.

“Saya sangat berterima kasih kepada majelis hakim yang telah memutus saya dengan baik, dan ini sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Jafar.

Selanjutnya Jafar mengatakan akan melakukan pembenahan dalam pekerjaannya.

”Selama sembilan bulan ditahan tentu banyak pekerjaan yang saya tinggalkan, untuk itu kita akan segera benahi,” pungkas Jafar.

Dengan menggunakan mobil Toyota Fortuner putih nopol KT 1717 NK, Jafar langsung menuju kediamannya di Jalan Tanjung Aru, Kelurahan Mangkupalas, Samarinda Seberang. 

Diketahui bos komura tersebut menjalani penahanan di lapas tersebut sejak 13 Juli lalu.

Kepala Lapas Klas IIA Samarinda M Iksan membenarkan jika Jafar meninggalkan lapas setelah beberapa bulan mendekam, selama menjalani proses persidangan.

“Kami hanya dititipi. Jika memang divonis bebas, kemudian ada surat eksekusi ya kami keluarkan. Karena ini memang penetapan dari pengadilan. Jadi kami hanya melaksanakan saja,” kata Iksan.

“Tadi jaksa yang membawa surat eksekusinya,” kata Iksan lagi.#SP/M7.

3,410 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan