Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Oknum Aktivis Dipolisikan, Karena Hina Wartawan

Oknum Aktivis Dipolisikan, Karena Hina Wartawan

SAMARINDA, MENIT7.Com – Kerap didukung dalam memperjuangkan hak warga Kalimantan Timur (Kaltim) tak membuat seorang oknum aktivis berinisial WY, berterima kasih atas peran wartawan.

Ironisnya profesi wartawan yang banyak membantunya itu justru dihina, bahkan disamakan dengan pekerja seks komersial (PSK). Pernyataan merendahkan kaum kuli tinta –sebutan untuk jurnalis- tersebut disuguhkan dalam sebuah tulisan di grup media sosial (medsos) whatsapp Perjuangan Warga Kaltim. Salah satu kalimat di dalamnya memuat pernyataan profesi wartawan sama dengan “Pe****r yang Hina”.

Tulisan memojokkan berisi ujaran kebencian itu membuat sejumlah wartawan yang tergabung di grup tersebut tersinggung, bahkan memutuskan membawa kasus penghinaan itu ke jalur hukum, kemarin (22/10).

Sejumlah wartawan televisi nasional dan surat kabar, serta perwakilan organisasi wartawan Kaltim, yakni Persatuan Waryawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Jurnalis Anti Hoax, dan Wartawan Peduli Bencana (Wapena), datang ke Polresta Samarinda. Kedatangan sejumlah organisasi wartawan tersebut untuk mendampingi, serta memberikan dukungan kepada Andi Marmin alias Asho, salah satu kontributor televisi nasional.

Asho adalah salah seorang wartawan yang pertama kali mengetahui serta membaca kiriman WY, yang juga ia kenal sebagai pengusaha.

“Kiriman di whatsapp itu saya ketahui pukul 18.00 Wita kemarin (Sabtu (21/10) lalu). Dalam kiriman tulisan ujaran kebencian itu, media terkhusus wartawan dituding tak memberitakan demo mahasiswa di depan Istana Negara yang menyebabkan 13 mahasiswa ditangkap,” terang Asho.

Entah sengaja atau tidak, tuduhan dalam postingan WY itu tak mendasar, karena faktanya seluruh media nasional, media online dan surat kabar ternama memberitakan demo tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK.

“Ada beberapa teman yang kebetulan juga bergabung di grup itu coba menanyakan maksud dia (WY’red) memposting tulisan itu. Jawabnya sih tidak ada niat menghina atau menyinggung,” ujar Asho.

Namun jawaban itu bagi Asho tak dapat diterima. Karena menurutnya, sebagai seorang aktivis yang memiliki pikiran intelektual, semestinya WY tak menyinggung apalagi sampai menghina profesi seseorang.

“Terlepas itu disengaja atau tidak. niat atau tidak, apa yang diperbuatnya sudah menumbuhkan kekecewaan saya serta rekan-rekan sebagai wartawan. Dan dia harus mempertanggungjawabkannya secara hukum,” tegasnya.

Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Kaltim, Charles Siahaan yang turut melakukan pendampingan menuturkan penghinaan profesi itu sudah sangat keterlaluan.

“Wartawan juga punya keluarga, punya anak. Mereka yang menghina tak memikirkan bagaimana perasaan keluarga wartawan yang dihina,” ujar Charles yang juga Ketua Jurnalis Anti Hoax.

Charles menambahkan, sudah saatnya wartawan bertindak dengan tindak membiarkan seseorang seenaknya saja menebar kebencian.

“Ini sebagai bentuk pembelajaran bagi siapa pun agar dapat menggunakan medsos dengan bijak,” tuturnya.

Pernyataan Charles itu diamini Ketua PWI Kaltim Endro S Efendi yang menyayangkan pelecehan tersebut. Menurutnya, jika tiap orang menyadari, keberadaannya masing-masing punya peran dan saling mengisi, harusnya pernyataan tersebut tak terlontar.

“Setiap individu punya peranan masing masing di negara ini. Hendaknya saling menghargai bukan saling mencari kesalahan. Salah satu yang membuat negara ini sulit maju, ya karena masing-masing sibuk mencari kesalahan. Bukan berpikir mengambil peranan dengan cara apa,” tegasnya.  

Ditambahkan Endro, organisasi wartawan, termasuk PWI, terus membenahi diri. Salah satunya dengan meningkatkan kompetensi wartawan, agar profesional melalui uji kompetensi.

Sementara Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Reza Arief dewanto, melalui Kasat Reskrim, Kompol Sudarsono yang telah mengetahui adanya pengaduan tersebut menyarankan agar wartawan membuat laporan tertulis.

“Kami akan langsung menindaklanjuti laporan tersebut. Karena ini berkaitan dengan ITE, maka akan ada saksi ahli yang dimintai keterangan terkait isi dari ujaran kebencian itu,” pungkasnya.#KP/M7.

2,678 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan