Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Nurani dan Belas Kasih untuk Daeng Nginta di Makassar

Nurani dan Belas Kasih untuk Daeng Nginta di Makassar

MENIT7.com – Disaat menjelang pesta demokrasi persiapan Pilkada  Sulawesi Selatan 2018, di sudut kota Makasar warganya Daeng nginta seorang ibu berusia 50 tahun salah satu penduduk kampung kumuh savana terletak pas disamping waduk Todopuli Kota Makassar, merasakan sakit yang dideritanya.

Penduduk kampung savana adalah masyarakat yang hidup nomaden, maka dari itu mereka membangun rumah dari seng-seng bekas dan kardus-kardus yang tidak terpakai.

Mereka selalu berpindah-pindah tatkala lahan yang mereka tempati saat ini akan dibanguni oleh pemilik lahan, berusaha mencari lahan baru untuk didiami begitulah kehidupan Daeng Nginta salah seorang dari masyarakat kampung kumuh savana.

Sehari-harinya bekerja sebagai pemulung untuk menghidupi ke 4 anaknya yang masih kecil-kecil,  Naas kondisi Nginta saat ini cukup menyita nurani, bagai mana tidak pasca diterpa banjir akibat meluaknya Danau Todopuli di Makassar.

Dia harus menanggung beban kesakitan akibat tumor ganas yang dideritanya tak lama setelah banjir terjadi, tutur Nginta  pasca Tim RK menyambangi kediamannya.

“Ada tonjolan yang timbul di perut saya, awalnya seperti bisul tapi lama-kelamaan terus membesar dan semakin besar. Bahkan saya pernah menarik semacam rambut bercampur darah dari tonjalan ini. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena hampir setiap malam saya didatangi kesakitan yang hebat belum lagi beban pikiran untuk terus melanjutkan kehidupanku sehari-hari,” papar Nginta.

Sangat ironis memang nasib yang diratapi oleh Daeng Nginta saat ini, hidup berada dibawah garis kemiskinan dan harus menanggung derita akibat tumor yang menderanya. Hampir dua bulan ia harus menahan kesakitannya berbekal ketabahan dan kepasrahan, Daeng Nginta tidak memiliki kemampuan untuk mengobati penyakitnya itu baik dari segi materi maupun keberanian.

Lantas apa yang harus dilakukan Daeng Nginta? Kemana dia akan mengaduh dan berkeluh kesah?. Dia tidak memiliki akses berobat baik itu KIS (Kartu Indonesia Sehat ) Maupun BPJS sehingga sangat susah baginya untuk berobat, belum lagi Nginta tidak memiliki  keluarga orang ningrat, apalagi dokter.

Baginya dermawan adalah dewa. bantuan yang diterimanya adalah anugerah yang tak terhingga nilainya. Sekalipun cahaya itu belum tiba tapi harapannya masih begitu besar tampak dari raut wajahnya, yang menenggelamkan kesakitannya dibalik senyumnya.

Daeng Nginta hidup digubuk reok pinggir waduk, sebagian rumahnya terendam air waduk dan tampak atapnya bolong-bolong. Hidupnya sangat sederhana, saat ini ia berharap kepada anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Dua dari empat anaknya harus turung memulung untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya, mereka tak lagi bersekolah, apalagi berharap untuk menikmati kehidupan nyaman ala  anak-anak kota pada umumnya.

Kala anak-anak sekolahan bangun jam 7 pagi untuk menenteng tas sekolah, Suci  dan Silia (nama anak Daeng Nginta) justru bangun jam 6 pagi untuk menenteng karung untuk mulung.

Daeng Nginta benar-benar tak kuasa melihat anaknya tetapi apa daya garis nasib telah menyeret mereka dalam kondisi itu, ia hanya dapat berdoa dan beserah diri.(**)

Mari Ulurkan tangan Buat Daeng Nginta.

BRI 5019-01-015979-53-7 atas nama Amriani

Info selanjutnya hubungi 085342076875 (Nurhasika Sudirman)

2,016 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan