Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Menyoal Bayi Ajaib di Enrekang

Menyoal Bayi Ajaib di Enrekang

Dalam siklus kehidupan umat manusia, setidaknya ada tiga fase penting yang akan dialami: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ketiganya saling terkait bahkan menjadi bagian tak terpisahkan. Inilah siklus mainstream manusia normal. Bulan Syawal, bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan adalah waktu tepat untuk melangsungkan pernikahan. Salah satu alasannya bahwa bulan Ramadan telah menempa kedua calon mempelai agar menjadi manusia bertakwa, melepaskan segala sikap hewani dan memupuk jiwa kemanusiaan.

Sikap hewani yang penuh dengan kekejaman, kerusakan, kekacauan, saling menjatuhkan, saling memangsa yang dalam terminologi I Lagaligo “sianre bale, laksana ikan memangsa sesama ikan” telah dibakar hangus oleh Ramadan. Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawal. Ia pun berkomentar, Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan. Kecuali itu, menikah adalah perintah agama. Artinya ibadah yang mendapatkan pahala kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Adalah keliru jika diasumsikan bahwa hanya istri yang mendapat pahala, walaupun tentu saja dalam beberapa hal istri melebihi pahala dari suaminya jika pelayanannya lebih maksimal. Menyediakan makanan, minuman, merapikan pakaian, tempat tidur, mencuci dan menyapu semua disediakan pahala agung di sisi Allah. Sementara yang hidup menyendiri tanpa suami akan kehilangan kesempatan untuk mendulang pahala sebagai hasil pernikahan.

Khusus urusan kontak kelamin pasangan sah, segunung pahala menanti. Coba baca hadis berikut: Rasulullah bersabda, Dalam kemaluanmu itu ada sedekah. Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita? Rasulullah menjawab, Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala. (HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah). Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Ath-Thibbun Nabawi” memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah. Ulama salaf mengajarkan, Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan.

Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit. Jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri. Seorang ulama ditanya oleh muridnya. Wahai Syekh, nikmat apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia. Sang guru menjawab, banyak sekali. Tidak mungkin dapat dihitung semuanya. Namun dalam hal pernikahan, agama berperan vital. Sebab agama akan mengatur tata cara pernikahan yang sah dari sisi hukum syariat dan juga undang-undang atau hukum positif. Ada aturan yang disebut syarat dan rukun, serta ada etika dan budaya selama tidak bertentangan dengan agama yang baik untuk dilakukan dalam sebuah pernikahan. Pernikahan yang sah akan melahirkan ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan rahmah (kasih sayang). Sementara mereka yang tidak mampu mengontrol kelaminnya pasti akan melahirkan penyesalan.

Kasus pembunuhan janin, aborsi, buang bayi di selokan adalah contoh konkret dari hubungan luar nikah. Bahkan, pengalaman saya di Baznas Enrekang bahwa mayoritas anak terlahir cacat akibat hubungan gelap yang berusaha digugurkan oleh orang tuanya. Ternyata bayi tidak juga gugur bahkan lahir dalam keadaan cacat akibat obat pengguggur. Fenomena hamil dan melahirkan tanpa nikah bagi generasi muda yang berumur 15-19 tahun kian meresahkan. Konyolnya, ada saja di antara mereka yang berusaha menutup aib dengan cara membuat cerita yang tidak masuk akal. Salah satunya bahwa ada wanita di Enrekang yang dibuatkan cerita bahwa ia hamil dengan durasi tiga jam lalu melahirkan bayi yang bisa mengucapkan “Assalamualaikum”.
Anehnya, banyak yang terpengaruh dengan cerita khurafat penuh syirik itu dan menyebutnya sebagai bayi ajaib.

Setelah diperiksa oleh dokter, bayi dan ibunya dinyatakan normal. Tiada yang ajaib. Ibu mengandung seperti biasa, sembilan bulan dan anak lahir dalam keadaan normal. Jika lapar atau haus, bayi itu menangis. Artinya sang ibu mengandung karena melakukan kontak kelamin. Walaupun hingga saat ini yang membuahi masih misterius dan belum ada yang rela mengaku. Fenomena cerita ajaib tentang lahirnya bayi ajaib akan terus bermunculan sebagai modus menutup aib keluarga dengan aib yang lebih parah. Wallahu A’lam! (*)

3,932 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tags: ,

51 Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan