Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Mental Si Jago Kandang

Mental Si Jago Kandang

Kasus-kasus ini, dan kasus lainnya yang tidak disebutkan, menunjukkan ada yang salah dari mental mereka yang memegang senjata api. Wakil Koordinator Bidang Strategi dan Mobilisasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras), Puri Kencana Putri, mengatakan bahwa mereka-mereka ini punya “mental jago kandang.”

Menurut Puri, insiden seperti yang terjadi di mal Gandaria City itu adalah bukti bahwa kepemilikan senjata api di Indonesia belum terukur, tidak terinventarisir dengan baik, dan belum ada badan yang mampu mengevaluasi itu semua.

“Maksudnya, apakah kepemilikan senjata api berasal dari badan yang secara otoritatif memiliki, atau memang dimiliki murni ilegal?,” kata Puri, Minggu (8/10/2017).

Puri mengaitkan ini dengan kasak-kusuk senjata api ilegal yang sempat diutarakan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo beberapa waktu lalu. Menurutnya, dua kasus ini adalah bukti bahwa memang kepemilikan senjata api di Indonesia harus dievaluasi.

Pistol milik Anwari untuk menggertak petugas parkir sendiri diketahui didapat sejak tahun 2000 dari seorang teman. Bila memang benar demikian, maka kepemilikan pistol tersebut bisa dikatakan ilegal. Apalagi, profesi Anwari sebagai dokter rehabilitasi fisik tidak menuntutnya untuk memiliki senjata api.

Sementara Direktur Imparsial, Al Araf, mengatakan hal serupa, bahwa regulasi kontrol senjata api di Indonesia memang masih lemah. Selama ini, katanya, kita hanya menggunakan UU warisan Orde Baru yang sudah tidak lagi kontekstual.

“Karena itu untuk pemerintah dan DPR segera membuat kontrol senjata api dan bahan peledak (melalui aturan yang lebih kontekstual),” kata Al Araf.(tirto/m7)

2,686 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan