Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Liberalisasi Media dan Kebebasan Pers

Liberalisasi Media dan Kebebasan Pers

OPINI – Liberalisasi industri media pasca Orde Baru semakin meningkatkan persaingan dalam industri pers, baik dalam merebut khalayak maupun pengiklan. Imbasnya, tekanan pasar terhadap pers juga akan semakin meningkat dan berpotensi menempatkan dominasi kepentingan modal dalam penentuan kebijakan pemberitaan serta proses-proses produksi komoditi informasi dan hiburan.

Deregulasi industri pers pada hakikatnya adalah penghapusan regulasi pemerintah dan diganti oleh  regulasi pasar, di mana mekanisme pasar lebih ditentukan oleh the invisible hand berupa kaidah permintaan-penawaran, maksimalisasi produksi dan konsumsi. Mekanisme pasar akan menciptakan tekanan-tekanan agar setiap pelaku pasar memenuhi kaidah, logika, serta rasionalitas yang berlaku. Ada asumsi, semakin besar peran yang dimainkan oleh kekuatan pasar, akan semakin besar pula “kebebasan” konsumen untuk menetukan pilihan. Namun pada sisi lain, “kebebasan” konsumen itu sendiri sebenarnya dibatasi oleh berbagai kondisi struktural. Selain itu, regulasi industri pers yang sepenuhnya diserahkan kepada “the invisible hand” mekanisme pasar tidak selalu identik dengan kebebasan pers atau kebebasan publik untuk mengemukakan pendapat, kebebasan untuk memperoleh akses ke media, atau kebebasan memperoleh keragaman opini, versi, dan perspektif pemberitaan.

Karena itu, tekanan pasar serta kepentingan-kepentingan akumulasi modal, secara sistematis berpotensi mempengaruhi kualitas kebebasan pers dalam berbagai segi. Pertama, hanya media yang  mampu memenuhi permintaan pasar, khususnya pasar pengiklan, yang akan terus bertahan. Kedua, isu-isu yang ditampilkan oleh media cenderung terbatas pada isu-isu yang tidak bertentangan dengan kepentingan eskpansi dan akumulasi modal di sektor industri media. Ketiga, bagi kelompok publik yang tidak memiliki kemampuan untuk mengorganisasikan kekuatan massa, peluang untuk memperoleh akses ke media akan diperkecil oleh kepentingan industri yang cenderung menampilkan berita yang memiliki nilai jual atau memiliki bobot politik, karena menyangkut kepentingan kelompok politik yang besar dan terorganisir.

Keempat, sejumlah isu sosial yang sebenarnya menyangkut kebutuhan dasar segmen masyarakat tertentu cenderung dinilai tidak memiliki nilai berita yang layak jual.
Kelima, dominasi kepentingan akumulasi modal dan keuntungan industri media akan membuat akses ke media amat terbatas, hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.
Keenam, era liberalisasi industri pers dewasa ini juga amat berpotensi menciptakan hambatan bagi berkembangnya pers yang bebas, yang mampu menyuarakan berbagai kepentingan publik dan memberikan akses memadai kepada publik.

Dengan demikian, kebebasan pers dalam konteks liberalisasi industri pers tidak secara langsung menjadi kebebasan pers yang fungsional bagi proses demokratisasi. Kebebasan pers fungsional adalah kebebasan yang mampu menciptakan ruang publik dalam sebuah sistem demokrasi, di mana wacana mengenai legitimasi penguasa berlangsung dalam kawasan yang relatif terlindung dari intervensi politik penguasa dan penetrasi kepentingan modal.

Memahami Isi Media

Dalam studi media, ada tiga pendekatan untuk menjelaskan isi media. Pertama, pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media ditentukan oleh kekuatan ekonomi politik di luar pengelolaan media.

Faktor pemilik media, modal dan pendapatan media dinilai lebih menentukan peristiwa apa saja yang dapat dan tidak dapat ditampilkan dalam berita, serta ke arah mana kecenderungan pemberitaan tersebut.

Pola dan jenis berita ditentukan oleh kekuatan yang secara dominan menguasai pemberitaan. Pengelola media dilihat bukan sebagai entitas yang aktif.

Kedua, pendekatan organisasi. Dalam pendekatan ini, berita dilihat sebagai hasil mekanisme dalam ruang redaksi. Praktik kerja, profesionalisme, dan tata aturan yang ada dalam ruang organisasi adalah unsur-unsur dinamik yang mempengaruhi pemberitaan.

Kenapa suatu kasus diberitakan dengan cara tertentu, penjelasannya merujuk pada mekanisme yang terjadi dalam ruang redaksi. Demikian juga ketika media mengangkat tokoh politik tertentu, itu bukan karena motivasi ekonomi atau politik, tapi karena memang punya nilai berita yang tinggi.

Ketiga, pendekatan kultural, gabungan dari pendekatan ekonomi politik dan pendekatan organisasi. Dalam pandangan pendekatan ini, proses produksi berita dilihat sebagai mekanisme yang rumit, melibatkan faktor internal dan eksternal media. Media massa memang pada mempunyai mekanisme untuk menentukan pola dan aturan organisasi, tapi pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari dari kekuatan ekonomi politik di luar media.(***).

Oleh: Achmad Zamzami

10,392 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

2 Responses

  1. godaddy email loginAgustus 30, 2018 at 9:48 amReply

    A year earlier, 59 percent of these dealership emails achieved the 90 percent threshold.

    Comcast login email workspace email login att email login It really makes me think they’re more thinking about promoting us of Gmail with on behalf of” tacked
    on (so people view it); and offloading the stress of sending of email (SMTP) on other servers.
    Once signed in, click your username on the top in the screen and then click around
    the name in the other account to switch to it without logging out.
    Gmail login email https://emaillogin.us.com/ verizon email login The Google Research Blog notes that Smart Reply overcame the propensity to reply with ‘I love you’ to
    seemingly anything” in its prototype version.

  2. ortamt2.axbilisim.com.trOktober 26, 2018 at 12:38 pmReply

    Wһen I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each time a comment is added I
    gett several emaiⅼs with the same comment.
    Is thеre anyy way you can reove me from that service? Many thanks!

Tinggalkan Balasan

Dibagikan