Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Lahan Kelompok Tani Pajalele, Dirampas Oknum Kades Mafia Tanah

Lahan Kelompok Tani Pajalele, Dirampas Oknum Kades Mafia Tanah
Ilustrasi.(Net)

MAMUJU,MENIT7.Com – Kasus penyorobotan lahan dilakukan oleh Ynt oknum Kepala Desa Bojo Tanah Merah, Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Berawal Syam menceritakan, dia dan kelompok Tani (Poktan) Pajalele, di ketuai M.Rasyid menguasai tanah seluas kurang lebih 300 hektare degan sejumlah anggota 150 orang, menguasai tanah dengan bukti Surat Keterangan (SK) Gubernur KDH TK I Sulawesi Selatan (Sulsel) No.443/96 tanggal 17 November 1996, setelah kurang lebih tiga tahun, ia kuasai dikelola secara bersama- sama, tiba- tiba pada 25 Oktober 1999 pihaknya didatangi oleh Ynt, mengatas namakan anak buah AD, memaksa untuk meninggalkan lokasi yang dikelola seluas 200 hektare.

Lanjut, dikatakan, kedatangan massa itu, dengan alasan bukan areal wilayah Desa Tinali, dan menurut pihak penyerobot hanya 100 hektare.

“Kita semua berupaya mempertahankan hak kami, karena berdasarkan SK gubernur yang kami jadikan dasar, akhirnya pihak oknum desa yang sekarang saat itu bersama rombongannya membongkar pondok kami, yang ada di dalam lokasi kebun, semua dipaksa keluar,” ungkapnya kepada media Menit7.com,Selasa (19/9/2017)

Darinya, itu kata syam, sehingga puncak dari perkara pada Selasa, 24 Februari 2009 pihaknya diserang oleh kelompok oknum Kepala Desa (Kades) Jnt mengakibatkan dua orang diantaranya tewas yaitu korban Amir dan Andi Sukri, dimana pelakunya berjumlah 6 orang, namun baru 3 yang ditangkap dan dijatuhi hukuman sedangkan 3 orang melarikan diri, atas nama Hendra bin H.Lalang , Boha dan Daeng Bua, sampai saat ini belum ditangkap, sedangkan ke 3 orang tersebut sudah ada di Bojo Tanah Merah, terang Syam menceritakan ihwal kronologi menimpa dirinya dan pihalnya dan kelompok tani yang dia garap.

Lebih lanjut Syam menceritakan pembakaran rumah dan pondok sudah dilaporkan ke pihak Kepolisian Resort (Polres) Mamuju pada 25 Agustos 2002, sampai saat ini juga belum ada titik terang, bahkan sampai Polda Sulsel saat itu, dengan tanda bukti pelapor No.Pol: TBL/107/IX/2004 tertanggal 14 September 2004, tetapi pihak Polres Mamuju tetap tidak menindak lanjuti laporan pembongkaran dan pengrusakan dilakukan oleh Ynt dan kawan-kawannya, karena menjabat Kepala Desa (Kades).

“Sampai saat ini, pihak Kades justru menjual lokasi kami semua kepada pihak lain, yaitu Arifin Nur adalah guru SD Pontanakayyang, Kecamatan Budong-budong, kami ada dasar pendukung dengan bukti-bukti akurat, tapi oknum Kades Bojo Tanah Merah, betul-betul sudah arogan dan tidak ada lagi mempunyai hati menjual lahan kelompok tani kami dan sudah ada korban jiwa dan materi yang kami alami,betul-betul penegakan hukum dan keadilan tidak ada,” ungkapnya.

“Kami harap semoga Kapolda Sulbar dan Kapolres Mamuju, bisa menyelesaikan kasus dan penegakan hukum dan keadilan, kami bisa dapatkan, kembali lahan kelompok tani dari pelaku Mafia Tanah,” tutupnya. (M7/1)

3,124 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan