Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Ketua FKPT Kaltara: Kelompok Radikalis dan Teroris Ibarat Amuba

Ketua FKPT Kaltara: Kelompok Radikalis dan Teroris Ibarat Amuba

TANJUNG SELOR, MENIT7 – Ketua FKPT Provinsi Kalimantan Utara, Usman Fakih menegaskan, terorisme yang marak terjadi dengan latar belakang ideologi tertentu.
Berawal dari intoleransi yang kemudian mengalami radikalisasi hingga berujung pada aksi bom bunuh diri, penyerangan dan kekerasan lainnya.

Permisifitas kepada intoleransi (lesser threat) membuka ruang lebar mobilisasi radikalisme gerakan ekstrem yang pada gilirannya berujung pada aksi terorisme (bigger threat). Pada prinsipnya mereka tidak bisa menerima perbedaan, merasa paling benar sendiri, serta menyalahkan semua hal dan orang lain di luar dirinya, kelompoknya dan keyakinannya, bahkan dengan mudah mengkafirkan untuk membenarkan kesalahan pandangan mereka tentang jihad yang sarat kekerasan dalam situasi damai.

Dikatakan, di Indonesia, kelompok radikalisme tersebut di atas merongrong kedaulatanNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika terpola pada 2 (dua) tipologi gerakan. Pertama, gerakan evolusioner berciri pergerakan persuasif, melalui penguatan wacana dan jaringan, bahkan memanfaatkan instrument demokratis. Kedua, gerakan revolusioner yang memaksa dengan penggunaan kekerasan, mulai dari brainstorming radikalisme hingga aksi terorisme.

“Kelompok radikalisme dan terorisme mengembang biakkan ideologi mereka ibarat amuba dengan cara membelah diri, strategi penyebaran sel melalui banyak
tubuh yang berbeda. Sasaran utama mereka adalah kaum muda, secara ekonomi relative lemah, atau individu/kelompok yang kecewa. Kerentanan proses pencarian jati diri kaum muda dimanfaatkan oleh kelompok radikal terorisme sebagai wadah mutasi penerus ideologi radikal, sampai pelaku aksi teror,” ujar Usman Fakih kepada Menit7.com di kantor FKPT, Sabtu (26/08/2017).

Usman menambahkan, FKPT sebagai perpanjangan tangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di daerah, sebagai lembaga pemerintah non kementerian, yang diamanatkan menangani terorisme, memandang penting aspek pencegahan yang bersifat lunak dalam upaya mewaspadai berkembangnya radikalisme dan terorisme yang membajak kepercayaan tertentu di
masyarakat.

Menurutnya, pendekatan lunak dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui seni budaya, adalah metode yang efektif meningkatkan daya tangkal masyarakat, khususnya generasi muda, menolak ajaran dan ajakan kekerasan yang diinisiasi kelompok radikal terorisme.

“Kesenian merupakan cipta, rasa dan karsa manusia yang digali dari nilai-nilai luhur masyarakat dapat didayagunakan untuk menangkal ideologi kekerasandan menguatkan semangat perdamaian. Sastra sebagai cabang dari kesenian, dalam konteks tersebut, adalah elemen penting menghaluskan perasaan, membentuk watak yang sensitive secara pribadi dan sosial, serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya.

Oleh sebab itu tegas Usman, kegiatan pelibatan Komunitas Seni Budaya dalam pencegahan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltara dalam bentuk “Bunga Rampai Sastra Cinta Damai” yang digelar 6-8 Sepetember di Hotel Duta Tarakan, merupakan ikhtiar mengajak masyarakat untuk mewaspadai radikalisme sebagai bagian dari upaya-upaya pencegahan terorisme, dalam rangka merawat kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia.

“Jadi kami melibatkan komunitas seni budaya di daerah untuk menginspirasi masyarakat cinta damai anti kekerasan,” tutupnya. (Imam/Arif/M7)

3,196 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan