Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Jalan Cinta Para Sufi

Jalan Cinta Para Sufi

OPINI- Ketika bangsa Viking menginjakkan kakinya di Northumbia Inggris, tempat yang pertama kali mereka temukan adalah sebuah Gereja. Dengan penuh nafsu mereka memasuki tempat itu, membunuhi para pengikutnya lalu merampas segala isi gereja. Nafsu membunuh mereka semakin menjadi tatkala mengetahui bahwa tempat itu adalah tempat di mana doa-doa kepada Tuhan dipanjatkan. Bagi bangsa Viking, tempat tersebut adalah tempat d imana pembangkangan terhadap Tuhan dilakukan. Tempat dimana mereka yang menolak konsep ketuhanan mereka berkumpul. Layaknya bangsa Yunani, bangsa Viking percaya dengan konsep Tuhan yang politeis.

Orang-orang Scandinavia percaya kepada dewa-dewa yang menguasai semesta. Dewa Tertinggi adalah Odin, lalu ada Thor, Freya, Loki serta dewa dewa lainnya. Sebaliknya, bagi bangsa Inggris yang saat itu telah mempercayai iman Kristen, keyakinan akan Tuhan yang banyak yang dianut oleh bangsa Viking justru dianggap sebagai sebuah ajaran pagan dan berbeda dengan iman Kristen yang mempercayai konsep monoteisme. Maka perang yang terjadi antara bangsa Scandinavia dan juga bangsa Inggris saat itu bukan hanya persoalan invansi dan perebutan lahan namun juga melibatkan persoalan keyakinan. Bangsa Viking percaya bahwa ketika mereka mati dalam perang tersebut maka mereka akan masuk ke dalam Valhala. Tempat dimana Sang Dewa Odin berada. Monotesime dan Politesime adalah dua bentuk penghambaan manusia terhadap Zat yang dianggapnya jauh lebih berkuasa dan Pencipta manusia.

Meski pada dasarnya keduanya adalah bentuk penghambaan dan pengakuan terhadap kekuatan yang menguasai semesta namun sering kali terjadi para penganut politesime dan monoteisme saling menumpahkan darah karena menganggap salah satu dari mereka adalah kelompok yang salah. Upaya para pencari Tuhan yang berakhir pada pertumpahan darah tidak hanya terjadi sekali. Sejarah menunjukkan bagaimana para pemeluk agama dan penyanjung Tuhan seringkali bertikai karena perbedaan pemahaman dan kebenaran mutlak yang diyakininya. Bukan hanya di antara para penganut monoteisme dan politeisme semata. Sesama penganut monoteisme pun bahkan seringkali terlibat konflik. Bahkan sesame pemeluk agama yang sama pun seringkali terlibat konflik sektarian. Sebuah konflik yang pada awal mulanya bukanlah konflik agama, bisa terekskalasi menjadi sebuah konflik yang besar setelah isu agama dipergunakan. Apalagi jika ditambahkan bumbu tentang kedekatan Tuhan kepada suatu kaum dan kebencian Tuhan pada kaum lainnya.

Menuju Tuhan

Bagi kaum sufistik, jalan menuju Tuhan yang berdarah-darah adalah tabu. Jalan menuju Tuhan seharusnya jalan damai yang teduh. Tokoh-tokoh sufistik seringkali melihat bahwa agama pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama yakni mengabdi kepada Zat yang diyakini sebagai Tuhan. Sehingga tidak dibenarkan jika seorang penganut agama menghakimi penganut agama lain salah lalu mendaku dirinya sebagai yang paling benar dan paling dekat dengan Tuhan. Jalan menuju Tuhan seharusnya adalah jalan cinta seperti yang ditunjukkan olah para Sufi seperti Mansur al-Hallaj, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi ataupun Saaduddin Mahmoud Shabistari. Saadudin Mahmoud Shabistari, seorang Sufi Persia yang lahir di Tabriz, Azerbaizan pada tahun 1288. Shabistari berupaya mencapai Tuhan dengan jalan yang damai dengan menghargai perbedaan pemahaman akan konsep ketuhanan yang poletis maupun monoteis.

Karena bila dilihat secara esoterisme, pada hakikatnya semua agama baik monoteisme maupun politeisme adalah sikap pasrah yang bertujuan untuk mengabdi kepada Tuhan. Leonard Lewisohn dalam bukunya The Transendental Unity of Polytheism and Monotheism in the Sufism of Shabistari menuliskan bagaimana pandangan Shabistari adalah sebuah ekspresi Islam yang mampu melampaui perbedaan sektarian Sunni-Syiah. Bukan hanya itu, Shabistari mampu membangun toleransi sufisme terhadap doktrin-doktrin lainnya seperti Zen Budha Kabbalah Yahudi, Vedanta Hindu ataupun Mistisisme Kristen. Pandangan Shabistari tersebut dapat kita saksikan dalam puisi-puisinya. Aku dan Engkau, tak lain hanya kisi-kisi dalam ceruk sebuah lentera tempat Sang Satu Cahaya bersinar. Aku dan Engkau, hanyalah selubung antara langit dan bumi.

Angkatlah selubung ini dan tak lagi kau lihat ikatan madzhab dan keimanan. Ketika aku dan Engkau melenyap, Apalah arti Mesjid? Apalah arti Sinagog? Apalah arti Kuil Api? Hal senada diungkapkan Rumi ketika mengatakan: Aku bukanlah Nasrani. Aku bukanlah Yahudi. Aku bukanlah Majusi. Aku bukanlah Muslim. Keluarlah, Lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Agar kita mampu bertemu pada suatu Ruang Murni. Tanpa dibatasi prasangka dan pikiran gelisah. Baik Shabistari maupun Rumi tidak lagi mengelompokkan dirinya dalam sekat-sekat agama. Dan bahwa apapun jalan yang ditempuh oleh setiap manusia jika tujuannya adalah bertemu dengan Tuhan, maka jalan itu akan membawanya bertemu dengan sang Pencipta. Dan seperti layaknya para sufi, jalan menuju Tuhan yang kita jalani seharusnya jalan damai. Bukan jalan yang berdarah darah dan melukai orang lain yang juga meniti jalannya menuju Tuhan.

Tidak ada agama yang sama tentu saja. Namun esensi, ajaran dan tujuan agama bisa saja sama. Yang terpenting adalah bagaimana melaksanakan ajaran agama yang kita yakini lalu menghormati kelompok lain yang menjalangkan ajaran agama yang diyakininya. Jalan cinta para sufi menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan harusnya didekati dengan Cinta karena Tuhan adalah Sang Maha Cinta. Wallahu A’lam bi as-Sawwab. (*) Sebuah konflik yang pada awal mulanya bukanlah konflik agama, bisa terekskalasi menjadi sebuah konflik yang besar setelah isu agama dipergunakan. Apalagi jika ditambahkan bumbu tentang kedekatan Tuhan kepada suatu kaum dan kebencian Tuhan pada kaum lainnya. (*)

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/

3,348 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan