Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Final Champion 2017: Menanti Keindahan di Millenium

Final Champion 2017: Menanti Keindahan di Millenium

DUA tahun yang lalu, pasukan Juventus pimpinan Massimiliano Allegri memasuki Olympiastadion, Berlin, dengan optimisme tinggi meraih trofi Champions. Sembilan tahun sebelumnya, Berlin adalah nirwana bagi Gianluigi Buffon dan Andrea Pirlo tatkala Italia melenyapkan harapan Perancis di final Piala Dunia 2006. Azzuri menghajar Les Blues dengan skor 5–3 melalui adu penalti, setelah imbang 1–1 selama 120 menit.

Setelah meraih Piala Dunia, Gigi Buffon berujar, “Setiap orang punya takdirnya sendiri. Hidup kita tak dipetakan, namun takdir memberi kita pertanda dan sedikit penolakan. Terserah kita untuk menginterpretasikan dan memutuskan apakah mengikuti sang takdir atau tidak.”

Saat memasuki Olympiastadion bersama I Bianconeri, Andrea Pirlo merindukan untuk mengulang kenangan manis itu. Lawan mereka adalah Barcelona dengan trio MSN (Messi-Suarez-Neymar).

Gol cepat El Barca yang dicetak Ivan Rakitic disamakan oleh Alvaro Morata. Kedudukan 1-1. Selama tiga belas menit Juve masih percaya bahwa sang takdir -sekali lagi- sedang tersenyum kepada mereka di Berlin.

Tiga belas menit kemudian pasukan Allegri sadar bahwa takdir berkehendak lain, setelah Luis Suarez dengan ‘anarkis’ merobek jala gawang Buffon. Dua puluh enam menit setelah goal Suarez, sang takdir kian menjauh dari Sang Zebra manakala Neymar dengan dingin memupus kecemerlangan Buffon.

The Catalans membenamkan La Vecchia Signora sampai ke dasar jurang penuh cadas, dengan skor 3-1. Kemenangan El Barca menghancurkan hati La Vecchia Signora. “Kekejaman” Barcelona adalah “kekejaman” sang takdir atas Juventus. Mamamia.

Nirwana Berlin menjelma menjadi lembah airmata bagi tifosi Si Nyonya Tua. Begitu peluit panjang dibunyikan wasit Cüneyt Çakır, dua veteran pasukan Allegri, yaitu jenderal lapangan tengah Pirlo dan palang pintu Buffon tertunduk lesu; mereka sesenggukan dalam linangan air matanya. Pemain muda Juve, Alvaro Morata, pun berkubang duka.

Harian Italia La Gazetta dello Sport menulis headline: Pirlo e Morata in lacrime (Pirlo dan Morata dalam genangan air mata). Air mata Pirlo tidak tumpah tatkala ditinggal pergi isterinya, Deborah Roversi, tahun 2014, namun titik-titik air produksi glandula lacrimalis (kelenjar airmata) menetes karena bagi Pirlo partai final ini adalah peluang terakhirnya memenangi Liga Champions.

“Kami menjalani musim yang luar biasa dan final yang luar biasa. Ketika kami berada dalam momen terbaik kami harus kebobolan. Saat skor 3-1, bisa dikatakan laga telah berakhir. Namun, ini adalah bagian dari proses kami tumbuh,” ujar Allegri usai laga final.
I Bianconeri terus tumbuh dan berkembang; bek tengah Giorgio Chiellini berujar, “Kami semakin berkembang dalam hal kualitas dan teknik; namun yang paling penting adalah kemauan dan pengorbanan, itulah rahasia kami di tahun ini. Berdasarkan “rahasia” itulah mereka menuntaskan dendam atas Barcelona di perempat final Liga Champions 2016/2017.

El Barca ditumpas dengan agregat 0-3. Kesuksesan Juve membungkam El Blaugrana menggelitik pemain bertahan Leonardo Bonucci untuk memberikan komentar, “Juventus sekarang tampil membuat ngeri tim-tim lain.“ Juve melaju ke final setelah menyingkirkan AS Monaco.

Dua tahun setelah final menyakitkan di Berlin, Allegri kini memimpin pasukannya menuju Stadion Millenium Cardiff di Wales, kandang punggawa Real Madrid, Gareth Bale.

Allegri mengatakan, “Kami akan hadapi laga final lawan Madrid dengan bekal pengalaman.Kami tumbuh dalam rasa percaya diri. Semua kami: diri saya, tim dan para fans. Kini kami lebih yakin dibanding final dua tahun lalu di Berlin, walaupun Madrid lebih difavoritkan,” tutur Allegri seperti dilansir The Guardian.

Ia melanjutkan, “Seperti kata Gigi Buffon, tatkala Anda sudah tiba di final, Anda mesti memenangkannya. Semoga ini tahun yang tepat untuk jadi kampiun.”

Minggu dini hari, 4 Juni 2017, sungguh dinantikan oleh fans Juventus dan Real Madrid. Mungkin hanya penyair Spanyol Federico Garcia Lorca yang tak menghendaki malam itu datang, seperti yang ia tulis dalam sajak Gacela of Desperate Love:

“Malam tak ingin datang/ agar kau tak bisa datang/ dan aku tak bisa pergi. Tapi kau akan datang/ dengan lidah terbakar hujan garam. Siang tak ingin menjelang/ agar kau tak bisa datang/ dan aku tak bisa pergi. Tapi kau akan datang/ lewat lorong-lorong kumuh penuh kegelapan. Baik siang maupun malam ingin datang/ agar aku bisa mati untukmu dan untukku.”

Pasukan Massimiliano Allegri dan Zinedine Zidane telah tiba di Wales untuk pertempuran final Liga Champions.  Mereka memang ingin datang dan bertempur sampai tetes keringat terakhir. Telah mereka susuri lorong-lorong penuh kepahitan dan “derita” sebelum sampai ke puncak pendakian.

Sang takdir telah menentukan keputusannya bahwa hanya Juve dan Los Blancos yang berhak tampil di panggung dan pentas teater bernama Millenium Stadium dengan sang pengadil asal Jerman, Felix Brych.

Cardiff akan menjadi surga bagi sang pemenang sekaligus palung air mata bagi sang pecundang. Final nanti akan berlangsung indah, kata gelandang La Vecchia Signora, Claudio Marchisio. Sesuatu yang indah menyiratkan banyak makna.

Sumber : http://makassar.tribunnews.com

 

2,444 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan