Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Cara Kota Dunia Mengatasi Banjir

Cara Kota Dunia Mengatasi Banjir

Oleh: Eric Mangiri (Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Unmul)

OPINI — Banjir merupakan suatu keadaan sungai dimana aliran airnya tidak tertampung oleh palung sungai, karena debit banjir lebih besar dari kapasitas sungai yang ada. Secara umum penyebab terjadinya banjir dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu karena sebab alami dan tindakan manusia.

Yang termasuk sebab alami yaitu : curah hujan yang tinggi, fisiografi atau geografi fisik sungai, erosi atau sedimentasi yang terbawa air hujan ke sungai, kapasitas sungai karena sedimentasi dan pengaruh air pasang yang tinggi.

Sedangkan yang termasuk penyebab banjir akibat tindakan manusia diantaranya, seperti : perubahan Daerah Pengaliran Sungai akibat penggundulan hutan, perluasan kota, perubahan tata guna lainnya dapat memperburuk masalah banjir karena berkurangnya daerah resapan air. Perumahan kumuh yang terdapat di bantaran sungai merupakan penghambat aliran sungai. Pembuangan sampah di alur sungai dapat meninggikan muka air banjir karena menghalangi aliran.

Pengendalian banjir merupakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan pekerjaan pengendalian banjir, eksploitasi dan pemeliharaan, yang pada dasarnya untuk mengendalikan banjir, pengaturan penggunaan daerah dataran banjir dan mengurangi atau mencegah adanya bahaya/kerugian akibat banjir. Berikut upaya-upaya kota di Dunia dalam mengatasi banjir.

Kota Besar Dunia yang Sukses Mengatasi Banjir

Curitiba (Brasil)

Curitiba berhasil mengatasi masalah banjir dengan mengubah area yang rawan menjadi taman dan menciptakan danau buatan untuk menampung banjir. Biaya yang dibutuhkan untuk strategi ini termasuk untuk merelokasi wilayah pemukiman kumuh diperkirakan lima kali lebih rendah dibanding ketika kota harus membangun saluran kanal banjir.

Tokyo (Jepang)

Terowongan Deep Tunnel Tokyo utamanya didesain dan dibuat untuk mengatasi banjir. Proses desain dan pembuatan Tokyo Deep Tunnel membutuhkan waktu 19 tahun dan menyedot banyak kas uang APBD Tokyo. Bayangkan 19 Tahun, dan itu dilaksanakan dengan penuh komitmen. Dengan desain yang melibatkan banyak pakar, dari tata kota, geologis, ekonomi, sosial, dari berbagai elemen. Mulai dari struktur tanah, harus tahan gempa, kekuatan menahan derasnya jutaan galon air, efek pendanaan terhadap perekonomian, efek sosial yang terjadi, dan seterusnya.

Kemudian Jepang mulai mengeksplorasi cara-cara untuk melindungi dataran rendah di sekitar ibu kota Tokyo. Iwabuchi Floodgate atau Akasuimon (Red Sluice Gate) dirancang pada 1924 oleh Akira Aoyama, seorang arsitek Jepang yang juga bekerja di Terusan Panama. Gerbang air ini dikendalikan oleh motor “aqua-drive” atau tekanan air secara otomatis yang menciptakan kekuatan untuk membuka dan menutup gerbang sesuai kebutuhan. Motor hidrolik tidak menggunakan listrik, sehingga tidak terpengaruh oleh gangguan listrik yang bisa terjadi saat badai.

Kuala Lumpur (Malaysia)

Untuk mengatasi banjir tersebut, maka Kuala Lumpur membuat proyek pengendalian banjir yang disebut Stormwater Management and Road Tunnel (SMART). Proyek ini dibiayai oleh Kerajaan Malaysia dan pengerjaan sepenuhnya dilaksanakan oleh pihak swasta.

Lingkup proyek SMART ini mencakup pembuatan terowongan (bypass tunnel) sepanjang kira-kira 9,7 km, pembuatan kolam-kolam penampung air, pembuatan twin box culvert outlet structure dan lain sebagainya. Dari kajian yang dilakukan, kolam-kolam penampung dan terowongan ini akan mampu menampung air banjir sebanyak 3 juta meter kubik.

Bangkok (Thailand)

Pipi monyet adalah sistem penampungan yang terdiri dari 21 wadah penampungan air hujan. Penampungan ini dapat menampung air hujan yang berlebih hingga 30 juta kubik. Lalu pada musim panas, air ini dapat digunakan untuk keperluan konsumsi warga Bangkok, termasuk di antaranya air minum dan air keran. Bangkok juga memiliki tanggul sepanjang 72 kilometer dan saluran air sepanjang 75 kilometer untuk mengalirkan air yang meluap dari sungai Chao Phraya.

Rotterdam (Belanda)

Selama ribuan tahun-tanah Belanda yang sebagian besar lebih rendah dari permukaan laut membuat bangsa Belanda selalu mencari cara untuk mengatasi banjir dari laut utara yang ganas yang sewaktu-waktu dapat memporakporandakan negeri itu.

Pembangunan benteng-benteng pertahanan dari banjir, adalah dengan membuat bendungan-bendungan dan tanggul-tanggul dengan sistem buka tutup yang kompleks. Satu hal memicu penemuan hal lainnya, setelah ditemukannya pompa sistem hidrolik dengan menggunakan kincir angin untuk mengeringkan air laut. Penerapan teknologi guna mengatasi problem banjir di Rotterdam, menggunakan sistim buka tutup pintu bendungan yang bergerak otomatis di saat air laut pasang maupun surut. Saat air pasang atau naik, dinding yang terkomputerisasi langsung menutup rapat dan tangki air memenuhi penghalang. Berat air mendorong dinding dengan kuat ke bawah dan membuat air tidak lewat.

Permasalahan Banjir Samarinda

Berdasarkan Data Bappeda Kota Samarinda Tahun 2016, terdapat 522 titik banjir yang tersebar di Kota Samarinda. Titik rawan terbesar ada di Kecamatan Sungai Pinang. Kemudian di Samarinda Ulu sebanyak 92 titik, Sungai Kunjang 63 titik, Samarinda Seberang 50 titik, Samarinda Utara 43 titik, Palaran 41 titik, Samarinda Ilir 34 titik, Sambutan 31 titik, Loa Janan Ilir 27 titik dan Samarinda Kota 22 titik.

Tentu saja hal tersebut membutuhkan perencanaan yang matang dan upaya yang keras dalam meminimalisir titik-titik banjir yang ada. Melalui kegiatan preventif kontrol dengan membaut Standar Operasional Prosedur dan merencanakan pengendalian banjir sampai 20 tahun salah satunya. Pembangunan saluran drainase dan gorong-gorong dan Pencegahan banjir perlu dilakukan oleh pemerintahan kota samarinda dengan membuat program dan kegiatan pengendalian banjir Kota Samarinda seperti : SID, Amdal, UKL/UPL, Perencanaan Teknis dan DED. ; Pengawasan dan Review Desing ; dan Pembangunan Kolam-Kolam Retenasi.

Pengendalian saat proses dilakukan juga perlu dilakukan, dalam hal ini pemerintah kota samarinda melakukan pengawasan saat pengendalian saat proses dengan membuat tim ada konsultan pengawas dan pengawasan teknis.

Pengendalian berkala, Dalam pengendalian berkala pemerintah kota samarinda melakukan pengawasan terhadap kegiatan pengendalian banjir seperti pembuatn bendung, drainase, gorong-gorong dan lainnya serta melakukan rapat mingguan dilapangan dan rapat bulan di kantor untuk membahas pengendalian banjir yang dilaksanakan sehingga kegiatan pengendalian banjir tepat dengan rencana.

Pengendalian mendadak, Pemerintah kota Samarinda melakukan pengawasan langsung kelapangan dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya sehingga bisa mendapatkan data yang objektif yang tidak dimanipulatif.

Sebaiknya Walikota sering turun kelapangan langsung melihat kondisi yang ada dilapang sehingga kebijakan yang di keluarkan tidak merusak lingkungan dan tidak bertolak belakangan dengan kebijakan pengendalian banjir.

Meninjau kembali perusahaan tambang batubara dan perusahaan properti di kota samarinda bisa menjadi sebuah agenda dalam pengendalian banjir di kota samarinda dengan memberhentikan aktivitas hingga mencabut ijin usaha tersebut yang terbukti tidak memiliki ijin secara legal dan mengevaluasi perusahaan yang tidak tertib melaksanakan UKL-UPL atau Amdal.

Harus mempertegas dan menjalan peraturan RTRW kota Samarinda dan membuat hutan kota atau RTH minimal 30 persen kemudian membenahi manajemen perkotaan yang ada di Kota Samarinda.(***)

1,460 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

21 Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan