Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Astaga, Ternyata Uang Korupsi Wali Kota Tegal Mau Dipakai Buat?

Astaga, Ternyata Uang Korupsi Wali Kota Tegal Mau Dipakai Buat?
Wali Kota Tegal Siti Mashita Soearno. (Foto-Ist)

MENIT7.COM  –  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami transaksi suap antara Wali Kota Tegal Siti  Mashita Soearno dengan pengusaha.Suap yang diberikan kepada Wali Kota Tegal Siti Mashita Soeparno (SMS) diduga akan digunakan untuk kepentingan Pilkada 2018.

“Diduga uang suap ini dipergunakan SMS dan AMZ untuk kepentingan Pilkada Tegal 2018,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, Rabu (30/8/2017) malam di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam kasus tersebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka.Mereka di antaranya Wali Kota Tegal Siti Mashita Soeparno (SMS), pengusaha sekaligus tangan kanannya Amir Mirza Hutagalung‎ (AMH) dan Wakil Direktur RSUD Kardinah Cahyo Supardi ‎(CHY).

Ketiganya kini sudah ditahan usai menjalani pemeriksaan intensif di KPK. Siti Mashita dan Amir diduga menerima suap dari Cahyo terkait pengelolaan dana jasa kesehatan di RSUD Kardinah dan pengadaan barang jasa di lingkungan Pemerintahan Kota Tegal tahun anggaran 2017.Tim Satgas KPK menyita uang sebesar Rp 300 juta dalam kasus tersebut.Rp200 juta berbentuk tunai dan Rp 100 dari rekening Amir. Diketahui Amir Mirza merupakan Ketua DPD Partai Nasdem Brebes.

Ia merupakan tim sukses pasangan Siti Mashita-Nursholeh dalam Pilkada Tegal 2013-2018 yang diusung Partai Golkar, NasDem, dan sejumlah partai lain.Amir Mirza disebut bakal mendampingi Siti Mashita dalam Pilkada Tegal 2018 mendatang. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Siti Mashita dan Amir Mirza sebagai penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Cahyo sebagai pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pas 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan tiga tersangka pascatangkap tangan di Tegal, Jakarta dan Balikpapan pada Selasa (29/8/2017).

Mereka adalah Wali Kota Tegal Siti Masitha, pengusaha bernama Amir Mirza Hutagalung, dan Wakil Direktur RSUD Kardinah Cahyo Supriadi.

Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno keluar dari gedung KPK memakai rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan, di Jakarta, Rabu (30/8/2017). Siti Masitha Soeparno ditahan KPK usai terjaring operasi tangkap tangan (OTT) terkait kasus dugaan suap pembangunan infrastruktur rumah sakit umum daerah (RSUD).

“Setelah dilakukan pemeriksaaan intensif 1×24 jam, KPK menetapkan tiga tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Tindak pidana tersebut terkait dugaan korupsi dana jasa kesehatan rumah sakit Kardinah dan penerimaan hadiah atau janji terkait sejumlah proyek di Pemerintah Kota Tegal Tahun 2017.Dalam kasus ini, Siti dan Amir merupakan pihak penerima.Sedangkan Cahyo sebagai pihak pemberi.

Atas perbuatannya, Siti dan Amir dijerat Pasal 5 ayat 1 (a) atau (b) atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara itu, Cahyo sebagai pihak pemberi dijerat Pasal 12 (a) atau (b) atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.Ketiga tersangka juga langsung ditahan di lokasi berbeda.

“Untuk kepentingan penyidikan,  KPK menahan ketiga tersangka selama 20 hari ke depan,” kata Basaria.

Siti ditahan di rumah tahanan klas I Jakarta Timur, Amir dititipkan di rumah tahana Polres Metro Jakarta Timur, dan Cahyo ditahan di rutan  KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.

Diduga Terima Rp 51 Miliar Sejak Januari 2017

Uang Rp 200 juta yang disita dari kediaman pengusaha bernama Amir Mirza Hutagalung, hanya sebagian kecil dari uang yang diterima Amir bersama Wali Kota Tegal Siti Masitha.

Sejak Januari hingga Agustus 2017, ternyata keduanya telah menerima Rp5,1 miliar.Hal itu disampaikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Raharjo.Diduga, pemberian uang terkait pengelolaan dana jasa pelayanan kesehatan di RSUD Kardinah Kota Tegal, dan fee dari proyek-proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkot TegalTA 2017.

“Dari jasa pelayanan total berjumlah Rp 1,6 miliar yang diindikasikan diterima dalam rentang Januari sampai Agustus 2017,” ujar Agus di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 200 juta ditemukan saat operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan.Sementara itu, sisa Rp 100 juta ditransfer ke dua rekening Amir, masing-masing Rp 50 juta.Selain itu, Siti diduga menerima fee sejumlah proyek di lingkungan Pemkot Tegal sekitar Rp 3,5 miliar dalam rentang waktu Januari hingga Agustus 2017.

“Pemberian diduga berasal dari rekanan proyek dan setoran bulanan dari kepala dinas,” kata Agus.

Agus menduga, uang tersebut berasal dari dana taktis rumah sakit.Menurut dia, pemberian uang tersebut tujuannya lebih kepada menyenangkan Siti sebagai kepala daerah.Dengan demikian, anggaran RSUD Kardinah bisa lebih lancar.

“Kalau kebiasaan di birokrat supaya anggaran lancar terus, servis untuk atasan, pengalaman yang lalu seperti itu,” kata Agus.

Adapun dalam kasus ini, KPK menetapkan Siti, Amir, dan Wakil Direktur RSUD Kardinah Cahyo Supriadi sebagai tersangka.Siti dan Amir merupakan pihak penerima.Sedangkan Cahyo sebagai pihak pemberi. (Trbn/M7)

1,638 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan