Pemerintah Kabupaten Mamuju~Mewujudkan Mamuju yang Maju, Sejahtera dan Ramah

Arung Palakka di Pusaran Kontroversi

Arung Palakka di Pusaran Kontroversi

SOSOK, MENIT7.com – Sejarah adalah pertanggungjawaban generasional dan karenanya harus steril dari gambaran manipulatif yang akan melahirkan kekeliruan bagi generasi penerus.

Masa lalu tidak adil jika diukur dan dinilai dengan takaran masa kini. Ia harus diukur dengan takaran masanya sendiri karena setiap masa memiliki karakteristik budaya dan tatanan sosialnya masing – masing.

Bahwa sampai saat ini masih ada pihak yang menilai langkah Arung Palakka menjalin kerjasama dengan VOC Belanda pada abad ke-17 yang lalu sebagai sebuah tindakan penghianatan, maka bisa dipastikan bahwa pandangan itu menggunakan takaran abad ke-20 dimana seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara dari Sabang sampai Merauke telah terangkum dalam satu negara kesatuan NKRI.

Sementara pada abad ke-17, khususnya di Sulawesi, setiap kerajaan dimasa itu adalah masing-masing satu negara yang berdaulat dan bebas menentukan kebijakan negaranya, termasuk dalam kerjasama bilateral dan multilateral dengan pihak atau negara manapun yang dikehendaki kerajaan atau negara tersebut.

Dalam hal ini, sosok Arung Palakka yang mengukir kesejarahan dirinya di abad ke-17, baik sebagai individu maupun sebagai seorang pemimpin telah mencontohkan potret kecemerlangan kwalitas dan integritas pribadi sekaligus potret pemimpin yang bertanggungjawab terhadap negaranya yang sedang berada dalam kondisi terpuruk.

Arung Palakka dalam hal ini sangat memahami bahwa naluri kemanusiannya (PessE) tidak bisa menerima kondisi politik di masanya. Di depan mata Arung Palakka, nilai- nilai kemanusiaan terciderai dan kehormatan bangsanya tercabik- cabik. Disatu sisi ia menyadari bahwa perjanjian- perjanjian dan persekutuan yang telah dirintis leluhurnya dengan kerajaan-kerajaan lain ketika itu sudah hancur. Rakyat Bone sendiri sudah sedemikian rapuh sejak terjadinya perselisihan dikalangan orang-orang Bone sendiri antara yang pro dan kontra terhadap upaya Raja La Maddaremmeng menegakkan syariat Islam di kerajaan Bone.

Penegakan syariat Islam ini berimplikasi pada pembebasan sahaya (ata). Hal ini mendapatkan tantangan dari para bangsawan Bone ketika itu yang pada akhirnya menimbulkan perselisihan dan perpecahan yang otomatis melemahkan kekuatan Bone. Inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi kekuasaan kerajaan lain.

Antara keinginan memperjuangkan dan menegakkan kehormatan serta nilai- nilai kemanusiaan dengan kondisi rakyat ketika itu disadari betul Arung Palakka sebagai suatu kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak bisa diharapkan untuk menopang cita – cita perjuangan.

Dimasa itu satu- satunya kekuatan yang bisa diharapkan membantu perjuangan Arung Palakka adalah kekuatan VOC Belanda. Pada saat yang sama, VOC sendiri ketika itu memang sedang berusaha melakukan penaklukan di wilayah-wilayah Sulawesi untuk memuluskan arus perdagangan dari Maluku. Arung Palakka mengetahui betul upaya VOC itu. Dari sinilah kemudian kedua pihak melihat sisi keuntungan masing -masing yang kemudian menjadi alasan untuk menjalin kerja sama.

Sukses mengembalikan kadaulatan kerajaan Bone dan kerajaan- kerajaan lain pada umumnya di Sulawesi, Arung Palakka tetap teguh dan tidak menghianati inti dan maksud perjuangannya yang menjadi alasan menjalin kerjasama dengan VOC. Bahwa tujuan perjuangannya jauh dari tujuan politik, ekonomi ataupun kekuasaan. Itu dibuktikannya dengan mengembalikan kedaulatan kerajaan-kerajaan lain pasca penaklukan, meski jika ia mau, ia bisa menguasai seluruh kerajaan- kerajaan di Sulawesi ketika itu.

Disinilah raja berambut panjang ini mengukir sejarahnya sebagai sosok penakluk yang bebas dari nafsu keserakahan dan kekuasan. Ia tidak memilih menjadi kaisar meski dengan mudah ia bisa melakukannya jika ia mau. Ia bahkan memilih mengawinkan keponakannya, La Patau Matanna Tikka dengan putri-putri keturunan langsung dari raja-raja di Sulawesi bahkan yang pernah jadi musuhnya demi menciptakan ikatan persaudaraan dan kesetaraan diantara kerajaan- kerajaan serumpun di Sulawesi.

Dengan cara ini Arung Palakka telah membentuk persatuan dan perserikatan kerajaan-kerajaan di Sulawesi sebagai kekuatan untuk membentengi kedaulatan kerajaan-kerajaan di Sulawesi dari ancaman luar.

Belanda tampaknya tidak suka dan mencurigai upaya Arung Palakka menghimpun dan mempersatukan seluruh kerajaan- kerajaan serumpun di Sulawesi. Sementara baik Arung Palakka maupun Belanda sama-sama mengetahui bahwa perjanjian yang pernah mereka buat adalah perjanjian kerjasama dengan kedudukan sederajat. Belanda tidak berhak ikut mengatur kerajaan-kerajaan di Sulawesi, apalagi mendikte kebijakan- kebijakan Arung Palakka.

Sikap Belanda semakin lama semakin jelas ingin menanamkan kuku di wilayah Sulawesi. Hal itu semakin memperburuk hubungan Belanda dengan Arung Palakka yang ketegangannya kemudian meletus dengan bentrokan bersenjata di Sumbawa. Pasca bentrokan ini, Gubernur Belanda mengirim Junius untuk membuat laporan terkait bentrokan tersebut. Dalam laporannya, Junius menyinggung perasaan Arung Palakka yang kemudian membuat Arung Palakka mengeluarkan ancaman untuk menyerang Belanda di fort Rotterdam pada tahun 1694.

Sikap Belanda yang mencampuri urusan dalam negeri kerajaan-kerajaan di Sulawesi semakin jelas dan Arung Palakka tidak tinggal diam. Maka kemudian dikumpullah 60.000 prajurit – prajurit dari semua kerajaan di Sulawesi di bawah panji SamparajaE dan bergerak untuk menggempur Belanda di Port Rotterdam. Takdir lalu menghentikan langkah Sang Raja Bugis ini. Yang Maha Kuasa lebih dulu memanggil beliau untuk menghadapnya. Beliau wafat pada tanggal 6 April 1696 sebelum Belanda merasakan gempuran-gempuran dahsyat dari ribuan prajurit yang terhimpun dari seluruh kerajaan di Sulawesi.(***)

Oleh: A. Burhanuddin U. Paolai

3,174 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

33 Responses

Tinggalkan Balasan

Dibagikan